Jalan buruk menuju Pantai Jungwok | Doc. PLB

Sejatinya tempat wisata menyuguhkan pemandangan yang indah, menarik,  dan sedap dipandang mata. Itulah salah satu alasan pengunjung objek wisata betah berlama-lama di  sana. Namun bagaimana jika untuk menikmati pemandangan tersebut harus bersusah payah? Itulah yang akan kita rasakan ketika berkunjung ke wisata  Pantai Jungwook yang berada di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Untuk memasuki kawasan pantai Jungwook kita harus melalui jalan berbatu yang

panjangnya kurang lebih   satu kilometer. Melalui jalan tersebut tentu akan membuat kita merasa tidak nyaman dengan goncangan-goncangan yang disebabkan jalanan rusak. Belum lagi jika musim penghujan maka jalan-jalan itut akan becek tergenang air dan lumpur. Padahal jalan itu adalah akses utama menuju arah pantai.

Di kanan-kiri ketika kita melalui jalan rusak tersebut kita bisa melihat lahan-lahan yang ditanami warga,  seperti tanaman palawijaya. Di  sepanjang jalan masuk pun tersebar pos-pos parkir untuk pengunjung wisata. Namun penulis sarankan jika ingin memarkirkan kendaraan,  sebaiknya di parkiran  nomor  16. Selain tempat parkir itu  cukup dekat dari pantai,  sang penjaganya pun ramah, beliau bernama Mbah Soro.

Mbah Soro

Sempat berfoto dengan Mbah Soro, pemilik parkir nomor 16 | Doc. PLB

Mbah Soro bercerita bahwa sudah sering kali warga kawasan pantai Jungwook meminta kepada pemerintah daerah setempat untuk merperbaiki akses jalan. Namun sepertinya masih terhalang dan terkendala pada proses birokrasi pemerintah daerah Gunungkidul. Padahal Gubernur Yogyakarta sendiri Sri Sultan Hamengkubuwono X memiliki program baru,  yaitu pengembangan objek wisata di  sepanjang pesisir pantai selatan.

Dengan program-program tersebut diharapkan mampu mengangkat perekonomian warga masyarakat di  sepanjang pantai selatan. Karena tidak bisa dipungkiri warga di sekitaran pantai selatan Jogja,  khususnya Gunungkidul, sangat bergantung dengan obyek wisata di daerah mereka.

Nah, karena di  daerah Gunungkidul sendiri tingkat pertumbuhan ekonomi masih rendah. Warga di  sana bergantung pada bercocok tanam. Yang mana artinya penghasilan tidak bisa datang setiap harinya, tergantung pada hasil panen yang tidak pasti. Sebab  itulah objek wisata pantai menjadi salah satu penghidupan warga di  sana.

Apalagi Gunungkidul memiliki banyak sekali pantai. Maka dari itu seharusnya pemerintah daerah, provinsi,  dan kota seharusnya membantu dan memfasilitasi warga dalam pengembangan tempat wisata. Termasuk pantai Jungwook yang masih minim dalam hal akses infrastruktur jalan.

Bagimanapun warga di Jungwook sangat mengharapkan perbaikan jalan agar semakin banyak pengunjung wisatawan yang datang ke pantai sana. Karena dengan banyaknya wisatawan berkunjung, maka pendapatan dan perekonomian warga akan meningkat.

Sehingga setidaknya  mampu  untuk mengurangi angka kemiskinan di daerah Gunungkidul. Jika dilihat dari kawasan objek wisata di Desa Jepitu,  banyak pantai yang bisa dikunjungi. Namun yang paling terkenal adalah Pantai Wediombo, padahal kalau  ingin ditelusuri  lagi  masih banyak pantai yang tidak kalah bagusnya dari Wediombo.

Namun karena akses jalan dan ketidaktahuan masyarakat membuat beberapa pantai tidak populer dan kurang diminati. Seperti pantai Jungwook yang menurut penulis sangat bagus dan indah,  yang mana untuk berenang pun sangat aman untuk pengunjung yang ingin berbasah-basahan di sana.

Di  dekat pantai Jungwook sendiri ada beberapa pantai yang indah,  seperti Pantai Sedahan, Greweng, dan Sinden  (Pulau Kalong). Menuju ke  pantai-pantai itu pengunjung pun harus melewati jalan-jalan yang cukup sulit. Seperti melewati jalan setapak yang kanan-kirinya kebun tebu dan peternakan warga.

Jadi kalau  ke  sana kita harus bercapek-capek dahulu,  karena kendaraan tidak bisa melaluinya. Itulah mengapa akses jalan sangat penting. Bukan hanya sebagai penghubung untuk para pengunjung sampai ke  pantai, juga sebagai penggerak roda perekonomian warga sekitar.

Biaya retribusi untuk masuk ke wilayah pantai pun terbilang sangat murah. Cukup dengan membayar Rp. 5.000,00 pengunjung sudah bisa menikmati pantai-pantai yang ada di daerah Jepitu. Setelah melewati gerbang retribusi kita masih bisa menikmati akses jalan aspal yang bagus.

Namun jika kita ingin mengarah ke pantai Jungwook tentu akses jalannya akan sangat jauh berbeda dari jalan menuju pantai-pantai di  sekitarnya. Jika dibandingkan dengan akses jalan menuju Pantai Wediombo yang notabene hanya bersebelahan dengan pantai Jungwook. Maka kedua akses jalan tersebut ibarat bumi dan langit perbedaannya.

Jalan berbatu yang harus dilalui untuk mengarah ke pantai Jungwook berbeda jauh dengan akses jalan aspal yang akan kita nikmati saat ingin berkunjung ke Wediombo. Sebab itulah kenapa Wediombo sangat populer bagi wisatawan.

Jika kita mengunjungi  Pantai Jungwook dan Pantai Wediombo, tentu kita merasakan  perbedaan-perbedaan yang bagus sehinga membuat kita tetap berpikir bahwa kedua pantai sama-sama indah,  dan memiliki ciri khasnya masing-masing.

Pantai Jungwok

Keindahan Pantai Jungwok | Doc. asmarainjogja.id

Namun jika kita mengambil perbedaannya dari segi kenyamanan perjalanan,  tentu akan berpikir ulang untuk mengunjungi pantai Jungwook. Karena itu bisa dilihat dari perbedaan ramainya wisatawan yang mengunjungi Wediombo. Belum lagi label sebagai “pantai terindah di Jogja” oleh media-media mainstream  yang membuat Wediombo menjadi sangat populer.

Inilah yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah untuk instansi terkait dalam mengelola pariwisata,  khusunya di daerah Gunungkidul. Membuat bagaimana agar para wisatawan memiliki berbagai macam pilihan objek wisata khusunya pantai. Tanpa ragu dengan hal-hal di  luar teknis seperti akses jalan yang tidak memadai untuk mendukung mereka mengunjungi objek wisata.

Jika hal-hal seperti itu tidak diperbaiki, bisa jadi kecemburuan sosial warga sekitar akan muncul karena persoalan ekonomi. Dengan ramainya Pantai Wediombo tentu warga di  sana mendapatkan perekonomian yang cukup.

Berbeda dengan warga yang mencari rezeki di  sekitaran pantai Jungwook. Mereka harus lebih bersabar untuk menunggu para pengunjung karena masih kurangnya minat wisatawan untuk datang ke Pantai Jungwook. Terbukti ketika saya menanyai Mbah Soro selaku pemilik tempat parkir Nomor  16. Mbah Soro  berujar bahwa tidak banyak pengunjung yang mampir untuk sekedar menitipkan motor setiap harinya di tempatnya.

Cukuplah Jawa dan Papua yang terpisah jarak ribuan kilometer sebagai contoh ketimpangan sosial di Indonesia. Jangan ada ketimpangan sosial baru yang hanya terpisah satu  bukit, sehingga membuat masalah baru muncul.

Penulis: Defry, anggota komunitas menulis Bintang Inspirasi

Baca juga artikel Defry lainnya:

Merpati, Satu Tahun Perjalanan Sang Pembawa Inspirasi

Malas Membaca? Ayo Datang ke Perpustakaan Ini!



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas