Akses ke Pantai Jungwok | Doc. PLB

Asmarainjogja.id--Bintang Inspirasi tak pernah mati, kali ini ingin  mencoba bercerita tentang kisah hidup  yang akan kusampaikan pada pembaca. Mungkin cerita ini agak miris,  ya,  untuk didengar?  Namun mau tak mau harus kusampaikan agar semuanya tahu tentang kondisi yang sesungguhnya.

Di sini aku hanya ingin mengadu kepada pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul. Sebab, yang katanya Gunungkidul adalah kabupaten yang menjadi salah satu tempat wisata favorit yang ada di Yogyakarta. Di sana berjejer pantai indah di sepanjang bagian selatan Gunungkidul.

Sedih, sejauh mata memandang, kulihat kondisi infrastruktur yang katanya dibangun besar-besaran,  nyatanya itu seperti bualan belaka saja. Karena aku melihat langsung kondisi di lapangan. Di sana akses menuju ke tempat wisata saja harus berhati-hati di jalan, takutnya terjatuh.

Pantai Jungwok, Pantai Greweng, Pantai Sedahan, Pantai Nampu, Pantai Wediombo, dan Pulau Kalong, terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul,Yogyakarta.    Namun mengkhawatirkan kondisinya.

Harus digarisbawahi bahwa yang aku katakan bukan pantainya yang mengkhawatirkan, namun medannya yang membuat orang-orang mungkin cukup sekali saja seumur hidup berkunjung. Kondisi jalan yang rusak, berlubang,  dan batu-batu yang lancip,  sangat membahayakan bagi wisatawan. Bisa-bisa mereka terjatuh lalu fisiknya terantuk batu.

Belum lagi yang ditakutkan,  yaitu ban kendaraan  pecah, itu tentu saja sangat merugikan bagi mereka para pengunjung pantai. Waktu menjadi terbagi,  yang seharusnya lebih lama di pantai tapi masih harus berurusan dengan motor.

Yang aku khawatirkan  nanti,  mereka hanya datang sekali saja dan merasa kapok untuk kembali lagi ke sana. Sudah pasti itu merugikan para pengelola pantai disana. Padahal pantai di sana sangat asyik di kunjungi apalagi untuk camping.

Lokasinya yang sangat strategis, tidak jauh dari perumahan warga dan lokasi parkir yang dijamin aman. Serta ada jasa antar dari warga sekitar yang bisa mengantar rombongan untuk ke pantai. Sebab, pengunjung kalau mau camping  ke Pantai Greweng atau Sedahan bisa diantar.

Dinas Pariwisata dan Dinas Pekerjaan Umum serta Pemerintah Daerah sebaiknya melakukan kerjasama untuk membangun potensi wisata di sana. Jalan agar segera diperbaiki, karena jalan adalah urat nadi dari lokasi wisata yang akan dituju. Belum lagi jikalau musim hujan tiba,  jalan bebatuan tersebut licin sekali dan membahayakan. Tentunya Pihak terkait bertanggungjawab atas risiko-risiko yang terjadi.

Andai saja jalan yang baik menuju ke pantai tersebut, tentunya akan ramai pengunjung dan dampaknya akan menaikkan perekonomian Gunungkidul. Agar kiranya pemerintahan setempat lebih memerhatikan akses-akses yang menuju ke tempat wisata, bukan hanya di pantai yang saya katakan ini saja namun tempat-tempat yang lainnya.

Aku hanya menyampaikan aspirasi saja kepada pemerintahan daerah. Sebab, aku adalah orang yang merasakan langsung   banyaknya tantangan menuju lokasi pantai tersebut. Aku sering menuju ke sana dan rasanya muak dengan kondisi jalan. Oleh sebab itulah penulis berharap  agar adanya perubahan  demi kepentingan umum.

Aku sangat prihatin dengan kondisinya,  karena di sana banyak yang mengais rezeki di  pantai. Selain bertani,  mereka  juga berharap pendapatan lebih dari pengunjung pantai. Baik itu dari jasa parkir, toilet, kuliner dan alat penyewaan lainnya.

Aku merekomendasikan saja buat para kalian yang ingin berkunjung ke pantai tersebut. Sebaiknya datang dan mendirikan tenda di pinggir pantai, agar lebih menikmati nuansa pantai dan rasa lelah di  perjalanan terbayarkan.

Pasir yang putih, air yang biru bening, dan kondisi alam yang bersih, membuat kita betah berlama-lama di sana. Apalagi suasana pantai yang sepi dan jauh dari keramaian. Sepi bukan berarti kurang menarik bagi pengunjung menuju ke surga dunia ini. Namun, terhambat oleh jalan yang rusak.

Aku dan kawan-kawan Komunitas Bintang Inspirasi berinisiatif untuk menulis kondisi lingkungan yang ada, dan harapannya dapat didengar oleh aparatur pemerintahan terkait. Bukankah pemerintah pusat selalu menggaung-gaungkan pembangunan infrastruktur besar-besaran? Maka sebaiknya anak buahnya juga mengikuti ultimatum dari pimpinan.

Jangan hanya jalan tol saja, namun jalan arteri,  maupun jalan ke pedesaan ke tempat wisata juga harus diperhatikan demi terciptanya peningkatan ekonomi. Karena bukan hanya wisatawan dalam negeri saja yang kita butuhkan,  namun wisatawan mancanegara juga banyak yang berminat datang ke sana.

Bukan hanya potensi wisatanya saja yang aku sampaikan di sini. Tapi, untuk memudahkan para petani mendistribusikan hasil pertaniannya lebih mudah dan cepat. Karena rata-rata warga yang berada di sekitar tempat wisata tersebut banyak yang bertani. Baik itu petani jagung, petani kacang tanah, petani tebu,  bahkan petani lidah buaya. Selain para petani, para warga juga banyak yang berjalan menyusuri jalan berbatu sembari menggendong rumput untuk pakan ternak maupun kayu bakar untuk memasak.

Yang lebih mirisnya lagi bukan hanya kondisi jalan yang rusak dan berlubang. Nah, yang lebih parahnya lagi yaitu jalan utama menuju Pantai Jungwok  tersebut sangat sempit. Jika ada kendaraan dari depan akan berselisihan maka salah satu harus menepi, mengalah,  dan saling pengertian.

Sudah selayaknya potensi wisata alam ini dikembangkan, segera dibangun kerjasama antara Dinas Pekerjaan Umun dan Dinas Pariwisata Kabupaten Gunung Kidul untuk menjalin kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat. Bukankah ikon dari Kabupaten Gunung Kidul adalah pariwisata pantainya?  Maka, tunggu apalagi?!  Inilah saatnya menggenjot perekenomian kabupaten yang katanya Pendapatan Asli Daerahnya tergolong rendah,  maka itu semua bisa ditepis.

Bukan hanya membangun dalam bentuk infrastruktur saja yang aku harapkan kepada instansi pemerintah setempat. Tapi juga ke sumber  daya manusianya juga. Aku sangat berharap ada pemberdayaan di sekitar kawasan pantai tersebut. Agar nanti para pengunjung menemukan kearifan lokal yang bisa dirasakan manfaatnya.

Agar nantinya masyarakat tidak hanya berpaku pada hasil pertanian saja. Namun hasil pertanian tersebut bisa diolah menjadi barang jadi dan dijual dalam bentuk produk yang bisa dikonsumsi langsung oleh masyarakat,  sehingga mempunyai nilai di pasaran. Dan siap bersaing di era revolusi industri 4.0 ini. Adanya mentor yang mendampinginya sehingga ada kerjasama untuk dipasarkan lewat teknologi digital.

Kritik bukan hanya pada pemerintah saja kali ini aku sampaikan. Namun juga kepada perguruan-perguruan tinggi yang ada di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Baik itu perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kok, sepertinya tidak  ada yang benar benar-benar melaksanakan tri dharma perguruan tinggi? Ada sih, yang melaksanakan. Tapi, yang aku amati  sampai saat ini dilaksanakan atas dasar formalitas dan tuntutan saja. Tidak dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Sehingga apa yang terjadi? Yang terjadi adalah para masyarakat yang menjadi objek pengabdian hanya menjadi korban saja. Konsep-konsep dan program-program yang dilaksanakan tidak berjalan dengan semestinya. Sehingga kondisi di lapangan yang terjadi adalah program berjalan hanya sampai di tengah jalan saja. Selesai masa studi mereka, selesai pula masa pengabdian mereka yang ditinggalkan tanpa tanggung jawab.

Mungkin itu saja yang aku sampaikan dari artikel ini.  Harapannya agar bisa memberi masukkan atas kritk-kritik yang membangun. Demi keberlangsungan kesejahteraan masyarakat di Gunungkidul. Atas perhatiannya aku ucapkan terimakasih. Salam literasi dari aku Bintang Inspirasi.

Penulis: Angin, anggota komunitas menulis Bintang Inspirasi

  Baca juga artikel Angin lainnya:

Teruslah Mengepakkan Sayap dan Perluas Jaringanmu, Bintang Inspirasi! 

Perpustakaan untuk Membangun Budaya Litersi

Misteri Pasar Beringharjo Yogyakarta 

Suasana di Titik Nol Kilometer Yogyakarta 

Pentingnya bagi Mahasiswa dalam Berorganisasi di Kampus 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas