Keseimbangan hidup (ilustrasi) | Foto istimewa

Asmarainjogja.id – Apapun yang ada di dunia harus disikapi dengan keadilan. Dan bagaimanpun rumitnya masalah itu, baik itu hubungan horizontal, berhubungan dengan sesama manusia, juga hubungan secara vertikal, manusia dan Tuhannya.

Dan setiap agama mengatur umatnya dalam mengatur cara hidupnya, guna untuk kebaikan umat itu sendiri. Begitu juga dengan agama Islam, jelas perintah Allah SWT kepada umat Islam untuk menumbuhkan rasa adil di setiap hamba-Nya.

Keadilan tidak melulu tentang hukum, namun keadilan juga berlaku pada diri sendiri menyikapi kehidupan. Misalnya saja kita sebagai manusia, sebagai hamba Allah SWT yang hidup di bumi, kehidupan dunia begitu nyata, bisa dirasakan, dan langsung berdampak pada diri kita.

Baca juga: 

Pemimpin yang Terbaik tapi Tidak Baik

Belajar yang Paling Menyakitkan adalah Tanpa Pengajar

Agus Yudhoyono, Cagub Ganteng yang Hobi Membaca

Kita sederhanakan lagi, kalau kita mau pintar ya belajar. Mau sukses ya giat bekerja. Logika, bisa diterima akal sehat manusia. Inilah kalau membicarakan urusan dunia dalam hidup. Mudah dipahami, gampang dikerjakan, dan sebab-akibat terlihat terang-benderang.

Nah, sekarang kita balikkan! Bagaimana menyikapi janji-janji Allah dalam firmannya, dalam lembaran-lembaran ayat suci Al-Qur’an mengenai kehidupan akhir? Sebenarnya ini tidak logika. Sungguh benar tidak logika, hari ini berbuat baik, di akhirat mendapatkan balasan.

Tapi di setiap Muslim tertanam akidah, sebuah keyakinan bahwa Allah SWT, Tuhan Maha Benar, Maha Pengampun, Maha Bijaksana, dan Maha… Maha… yang tiada habisnya untuk dituliskan. Sebab itu pula berkecambahlah Iman, yang mana Iman ini membimbing hambanya dalam segala perbuatan.

Kembali lagi kita ke perbuatan baik, dibalas di akhirat. Orang yang beriman percaya hal ini, karena jelas tertuang dalam Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an sendiri merupakan firman (ucapan) Allah SWT. Percaya keEsaan Allah SWT, berarti percaya terhadap Al-Qur’an, percaya terhadap Al-Qu’ran berarti percaya apa-apa saja larangan dan perintah yang terkandung di kitabullah tersebut.

Cukup sederhana memahaminya. Yang sulit adalah mengerjakannya. Di hati seorang hamba, ada rasa tidak sabar. Tidak sabar ini bisa melindas nilai-nilai suci yang tertanam subur berdasarkan benih-benih ajaran Islam, hanya demi kehidupan duniawi. Misalnya mau kaya, tapi bersekutu dengan Jin. Cari dukun paling sakti dengan segala risiko, siap menerima asalkan bisa kaya.

Ini zaman modern, zamannya tekhnologi canggih di abad 21, tapi masih saja percaya yang beginian. Tipe orang seperti ini percaya pada keajaiban-ajaiban ilmu sakti, mantra mujarab. Namun tidak mau meminta keajaiban pada Allah SWT, ia malah meminta keajaiban pada jin, pada manusia. Cukup aneh memang memahami cara berpikirnya.

Singkatnya, orang tersebut tidak sabar mendapatkan apa yang diperbuatnya secara langsung. Padahal metode seperti jelas tidak kekal, akan ada sialnya, karena dicarinya juga bertentangan dengan ajaran Allah SWT. Meskipun senang, hanya sementara, dan bisa juga jauh di hati yang terdalam ia gelisah dalam sehari-harinya.

Sebenarnya kalau kita mau memahami Allah SWT, sungguh baik terhadap kita. Kita tidak dilarang menjadi kaya raya, malah sebaliknya, bagus jika umatnya kaya. Begitu juga dengan kecerdasan, malah bagus jika hamba-Nya cerdas. Miskin dan bodoh adalah kesalahan pada hambanya sendiri. Inilah takdir yang bisa diubah oleh manusia sendiri.

Kita dilahirkan bisa saja dari keluarga miskin dan bodoh. Namun ketika kita sudah pandai berpikir, dan memahami hidup, harus menjadi orang cerdas dan kaya. Nah, kalau tetap miskin dan bodoh berarti salah pada diri kita sendiri, jangan salahkan orang lain! Apalagi Tuhan!

Baca juga: 

Mencapai Target Hidup Karena Allah SWT

Lima Profesi Paling Berpengaruh Bagi Kehidupan Manusia

Daftar Terbaru Lima Profesi Termiskin (Moral) di Indonesia

Cara hidup juga sangat sederhana. Kita semampu-mampunya belajar dan bekerja keras, seluruh daya upaya dikeluarkan untuk mencapai kecerdasan dan kesuksesan sembari meminta ridho pada Allah SWT.

Kan logika sekali, mau pintar belajar. Mau kaya ya giat bekerja, hemat, dan pintar mengatur uang. Orang tidak beragama sekalipun memakai rumus ini dalam hidup, karena memang nyata, bisa dipraktikkan, dan terlihat langsung buktinya. Namun karena kita orang yang beriman, maka ditambah pula dalam setiap usaha tentu tak bisa lepas dari peranan Allah SWT.

Hidup harus seimbang! Bagaimana mungkin kita bisa jadi orang pandai, kalau hanya berdoa dan sholat saja setiap hari, begitu terus bertahun-tahun, berharap jadi orang cerdas dan kaya, tapi tidak belajar dan berusaha,   gigih bekerja. Ya, tidak bisa! Tidak terkabul doa-doanya.

Kita harus memahami keseimbangan hidup, 50 persen untuk kehidupan dunia, dan 50 persen untuk kehidupan akhirat. Seimbang! Kita berlaku adil pada diri sendiri, pada agama, dan pada kehidupan itu sendiri. Inilah calon-calon manusia yang bahagia di dunia dan di akhirat.

Ia bisa berlogika di kehidupan nyata, dunia, dan dia mengimani hari akhir atas ajaran Islam. Lagi-lagi kita mengaplikasikannya sulit, merasa berat sekali, dan bisa menimbulkan rasa beban dalam hidup. Baiklah kalau begitu, paling tidak memahami dulu kseimbangan hidup. Kan tidak sulit-sulit amat memahaminya? []

Penulis:  Asmara Dewo 

Asmara Dewo

Yuk Baca perjalanan penulis yang seru dan inspiratif ini:

Jejak Dewo: Cita, Cinta, dan Manusia

Lihat juga: 

Kaos Gunung Semeru, Persembahan dari Asmara In Jogja

Kaos Gunung Semeru

 

Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist Yogyakarta

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas