Sate padang, bisnis kuliner khas suku Minang | Foto Detik

Asmarainjogja.id -- Dari Sabang sampai Merauke selalu ada suku Minangkabau yang merantau di kampung orang. Baik di dusun, kota kecil, sampai di kota megapolitan. Dan tak jarang pula orang Minang merantau sampai ke luar negeri.

Memang budaya mereka sejak dulu kala, merantau bukan sekadar untuk mengubah nasib, namun untuk mencari ilmu dalam belajar, dan mencari pengalaman di negeri orang. Tapi yang utama adalah mengubah nasib mereka.

Seorang bujang (anak laki-laki yang mulai dewasa) dari keluarga Minang yang miskin, mencoba mencari peruntungan di kampung orang lain. Awal-awalnya bekerja pada sesukunya, setelah mulai mendapatkan modal yang cukup pemuda ini tadi mendirikan usaha sendiri.

Usaha yang dibangun ini bermacam-macam pula, mulai menjual makanan, asesoris, pakaian, dan lain-lain. Intinya tetap berjualan.

Baca juga:  Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Tidak hanya seorang lajang saja yang merantau, bahkan satu keluarga juga mencoba mengais rezeki di perantauan dengan usaha kecil-kecilan. Sepengetahuan saya hampir 90 persen orang Minang yang merantau berhasil.

Sejak kecil saya sudah bergaul dengan keluarga Minang, bahkan kerabat-kerabat saya juga banyak yang berasal dari Sumatera Barat itu. Jadi saya menuliskan ini berdasarkan pengalaman saya dalam pergaulan, dan pengamatan saya sampai di Yogyakarta ini.

Kunci satu-satunya keberhasilan orang Minang adalah berdagang. Apapun dagangannya, dan bagaimanapun tantangannya. Dan orang Minang juga termasuk salah satu suku bangsa di Indonesia yang pandai bergaul dengan suku bangsa lainnya. Hal ini pula mereka selalu diterima di manapun keberadaannya.

Nah, di perantauan orang-orang Minang ini juga sifatnya kekeluargaan. Mereka walaupun sama-sama berprofesi jualan, dan barang yang dijualnya sama, tidak ada perasaan saling bersaing. Malah saling membantu satu sama lain. Misalnya tukang sate dari Padang, dengan tukang sate Pariaman. Mereka tidak memburuk-burukkan tukang sate lainnya. Karena mereka yakin rezeki berjualan sudah diatur oleh Allah SWT.

Baca juga:  Ini Risikonya Meletakkan Telur dalam Satu Keranjang!

Dalam kehidupan sosial di perantauan, orang-orang Minang yang sudah berhasil tidak tergoda dengan kehidupan glamour, main perempuan, berjudi, apalagi narkoba. Bukankah kita tahu sendiri kekayaan pun bisa kandas kalau sudah bermain judi, bermain perempuan, dan menjadi pecandu narkoba berat.

Sehari-hari kehidupan orang Minang meskipun sudah kaya raya, kehidupannya tidak hura-hura. Dan ketika membeli barang-barang atau apapun juga memang dipikirkan matang-matang. Misalnya membeli mobil, kira-kira mobil ini untuk apa? Jika untuk mendukung jualan mereka akan dibeli, tapi kalau tidak, ya tidak dibeli.

Jadi jauh dari kesan hebat-hebatan dari tetangga lain punya harta ini-itu. Namun di tabungan mereka, wow… hanya keluarga merekalah yang tahu.

Dari segi agama, orang Minang juga relijius. Di tengah-tengah masyarakat tempat mereka merantau, selalu dibutuhkan peranannnya. Bahkan juga teman saya dari orang Minang sendiri, katanya: kalau belum bisa adzan tidak boleh merantau ke kampung orang.

Baca juga:  Kunci Eksisnya Usaha Warnet Skynet

Nah, di kampung mereka sendiri, di Sumatera Barat. Dalam dunia usaha mereka sangat kompak, dan bersatu untuk memajukan usaha mereka.

Dua tahun yang lalu saya pernah tinggal di Bukittinggi, di sana saya menghabiskan waktu sekitar tiga bulan lebih. Kegiatan saya sama seperti saat ini, traveling, dan menelusuri setiap tempat menarik, sembari bercengkaram hangat dengan warga di sana. Namun, waktu itu saya masih tahap belajar menulis, jadi tidak terekam dalam catatan.

Di Kota Jam gadang itu, mini market seperti Indomaret, Alfamart, Alfamidi, atau sejenisnya milik perusahaan swasta skala nasional, tidak ada yang berdiri. Namun untuk mall, ada, yaitu Ramayana di dekat Jam Gadang.

Mini market di sana dimiliki oleh warga setempat, yaitu orang-orang Minang sendiri. Mini marketnya juga mengikuti perkembangan zaman, modern dalam tata kelolanya dan transaksinya. Jadi tidak jauh berbeda dengan berbelanja di Indomaret, Alfamart, dan sejenisnya.

Peraturan ini dibuat oleh pemerintah setempat tentu saja demi kebaikan perekonomian warganya sendiri. Karena logikanya juga begini, kalau sudah masuk saja perusahaan swasta nasional, maka usaha milik warga Minang sendiri akan kalah saing. Buktinya, lihat saja kota-kota yang dibanjiri dengan Indomaret dan Alfamart, usaha milik warga sendiri yang sejenis tidak berkembang, bahkan sampai gulung tikar.

Baca juga:  Personal Branding dan Cara Melejitkan Potensinya di Era Digital

Ini adalah satu-satunya cara untuk membangkitkan dunia usaha milik warga sendiri, dan mestinya bisa dinasionalisasikan ke Indonesia.

Sederhananya juga begini, jika kita membeli barang ke tempat warga sendiri, putaran uang itu akan berputar terus dilingkungan itu sendiri. Lain halnya jika kita membeli barang milik perusahaan swasta nasional, putaran uang itu tidak kembali lagi ke warga lokal. Kan kita juga tahu, putaran uang itu sangat penting di dunia usaha, dan sangat berdampak pada warga di lingkungan sekitar.

Lain cerita ketika saya berkunjung ke Payakumbuh ketika itu. Di sana sempat berdiri Indomaret, namun tutup. Setelah saya cari tahu informasinya, Indomaret itu sempat mendapatkan izin, kemudian warga sekitar berdemo agar pemerintah mencabut izin usaha Indomaret di Payakumbuh tersebut. Langkah warga Payakumbuh sudah sangat tepat sekali. Karena begitulah caranya agar setiap warga di Payakumbuh bisa maju dalam dunia perusahaan.

Sampai sekarang ini budaya turun temurun berdagang masih diterapkan pada generasi Minang. Semoga saja budaya yang sangat brilian ini tetap dipertahankan, dan terus dikembangkan sesuai tuntutan zaman yang semakin modern.

Baca juga:  Hubungkan Dirimu ke Dunia dengan .Id!

Di Indonesia sendiri suku bangsa dalam persaingan usaha yang begitu kuat adalah suku bangsa Minang dan etnis Tionghoa. Dua suku generasi anak bangsa ini memang selalu bersaing ketat di mana-mana. Namun sampai sejauh ini, tidak pernah ada kabar buruk dalam dunia usaha mereka. Bisnis masing-masing di antara mereka berjalan fair.

Dalam ajaran Islam pun juga diterangkan, jika ingin menjadi orang kaya, apalagi kaya raya berdaganglah. Pintu rezeki dari dunia perdagangan 90 persen, sisanya 10 persen itulah dibagi-bagi setiap profesi. Bahkan Rasulullah sendiri berprofesi seorang pedagang. Bukankah sunggunh mulia pedagang itu? Namun begitu, jangan pula menjadi seorang pedagang yang curang, agar rezeki pun berkah.

Nah, generasi muda dari apapun agamanya atau suku bangsanya, meski memulai bisnis secepat mungkin. Apapun bisnisnya, apapun barang yang akan dijual, dan apapun bentuknya, yang penting tidak bertentangan dengan norma agama dan ketentuan hukum yang berlaku. Buang jauh-jauh sifat gengsi untuk berjualan! Toh, berjualan profesi yang sangat mulia, mengais rezekinya halal.

Bahkan waktu saya liputan di Pasar Sunmor di UGM, saya menjumpai Mahasiswa Minang S2 yang sedang berjualan gelang di sana. Dia mahasiswa, dia juga seorang pedagang. Dia juga sempat bilang sama saya, akan merambah bisnis kaos dalam waktu dekat ini.

Mahasiswa tipe seperti inilah yang dibutuhkan bagi Indonesia, selain berpendidikan tinggi, yang jelas intelektual, juga mempunyai jiwa enterpreunership. Indonesia akan menjadi negara yang sejahtera dan kuat dalam perekonomian jika warganya sendiri pintar berjualan, dan berbisnis apa saja yang bisa menahan gelompang produk impor.

Sayangnya, generasi muda kita saat ini kebanyakan berjiwa konsumtif, mereka jauh dari sifat produktif, akibatnya menjadi bangsa yang pasif. Jadi kalau kita sepakat ingin memajukan bersama-sama negara ini, setiap kita harus menjadi manusia yang aktif dan produktif, sesuai bidangnya masing-masing. [Asmara Dewo]



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas