Ilustrasi seorang ibu dan anaknya | Foto Istimewa

Asmarainjogja.id – Mulai memasuki hari-hari berpuasa, tampak terasa sekali suasana lebaran. Biasanya orangtua di kampung menanyakan anaknya di perantauan, “Nak, pulang tidak lebaran nanti?”. Si anak menjawab ragu-ragu, bisa iya, bisa juga tidak, tergantung isi dompetnya. Kalau duitnya tidak mencukupi, jawabnya seperti ini, “Lihat nanti,   ya, Mak? Nanti aku kabari lagi.”.

Sebuah keluarga itu ingin sekali berkumpul bersama di hari lebaran, terlebih lagi antara orangtua dan anak. Yang lebih-lebih lagi adalah si anak merantau jauh ke negeri orang, entah itu di luar negeri, atau mungkin saja masih di sekitar Indonesia, yang menurut orangtua sudah jauh sekali. Sebagai anak tentu ini beban pikirannya sepanjang hari, pulang tidak? Pulang tidak? Lihat lagi saldo, tertunduk lesu.

Sebenarnya orangtua itu tidak butuh yang macam-macam, cukup berjumpa saja baginya sudah sangat bahagia. Meskipun hal tersebut tidak terlalu diungkapkannya. Nah, si anak mungkin tidak enak, jika tidak menjadi seorang anak yang dibanggakan oleh keluarga. Maka hal seperti  ini menjadi dilema bagi seorang anak di perantauan. Mengingat merantau tentu tujuan utamanya mencari penghasilan lebih.

Tapiii… menjadi seorang perantau itu tidak langsung bisa berpenghasilan banyak, bisa mengirimi uang sampai berjuta-juta ke keluarganya. Kecuali memang si anak sudah berpenghasilan lebih, dan punya kebebasan keuangan sendiri. Jika saat ini kita merantau sudah bertahun-tahun belum juga berpenghasilan besar, tampaknya memang harus ada evaluasi diri. Kira-kira apa hal utama yang membuat kita seret rezeki? Saya pikir salah satunya adalah soal keridhoan dari orangtua. Ridho tidak orangtua kita?

Bukankah kita tahu ridhonya Allah adalah ridhonya orangtua. Mungkin juga seorang ibu yang rindu akan anaknya, ingin berjumpa bertatap muka, ingin memberikan ridho yang lebih terhadap anaknya, agar sia anak pun cepat berhasil di perantauan. Bisa jadi hal tersirat ini ada dalam kerinduan itu sendiri. Jadi bukan hanya sekadar kumpul keluarga saja saat lebaran, atau bukan sekedar mohon maaf lahir bathin, tapi jauh dari itu. Nah, kalau memang cukup uang hasil jerih payah kita selama ini sebaiknya pulanglah saat lebaran nanti.

Coba bayangkan lebaran itu hanya setahun sekali, artinya selama 12 bulan, hanya beberapa hari saja kita luangkan menjumpai orangtua. Jadi selama 11 bulan lebih mengais rezeki, benarkah kita memang tidak mampu untuk pulang kampung di saat lebaran? Kalau memang benar-benar seret rezeki, ya, habis cerita, deh. Apalagi yang mau dibahas?

Sebagai catatan, jika memang mampu maka pulanglah, tak ada rasa kebahagiaan selain berkumpul dengan keluarga. Sejauh manapun kaki kita melangkah, segala kebahagiaan kita dapat, namun kebahagiaan dari keluarga jauh lebih berarti dari itu semua. Bukankah kita lahir dari kebahagiaan orangtua kita sendiri?

Kenapa ketika sudah dewasa mencoba mencari kebahagiaan di luar sana? Meskipun kita saat ini sudah menikah, namun kebahagiaan bersama orangtua sendiri adalah satu paket dengan kebahagiaan bersama anak dan istri. Tidak bisa dipisahkan, atau dibanding-bandingkan.

Ketika beberapa hari lagi lebaran, ibu tadi menelpon anaknya, “Nak, jadi, kan pulang?”, dengan berat hati si anak menjawab, “Maaf, Mak, lebaran ini aku tak pulang.”. Tahukah Anda apa respon seorang ibu jika mendengar kabar anaknya tak pulang? Biasanya ibu yang paham sekali anaknya, menjawab seperti ini, “Oh, iya, Nak, tidak apa-apa. Semoga lebaran depan bisa pulang, ya?”

Tahukah kita apa arti tersirat dari kata “tidak apa-apa”? Bisa jadi karena apa-apalah iya mengucapkan kalimat penenang tersebut. Mungkin sedih, kecewa, bingung, dan lain sebagainya. Hanya saja ibu tadi tidak ingin memaksa anaknya untuk pulang, ia menyadari kesulitan si anak di perantauran. Nah, bagaimana si anak? Bisa mengerti tidak dengan ibunya di kampung?

Semoga saja beliau diberi umur yang panjang, diberi kesehatan dan kekuatan dalam sehari-hari, sampai kelak anatara ibu dan anak tadi bisa berkumpul di lebaran tahun depan. Nah, bagaimana jika itu tidak terjadi? Sebab Allah SWT punya rencana lain, sang ibu pun dipanggil-Nya. Innalilalahi wainna ilaihi rojiun. Jangan Tanya lagi soal penyesalan yang terjadi pada anak tersebut? Meskipun ia sudah berusaha sebaik-baiknya mencari rezeki di perantauan. Namun tetap saja di lubuk hatinya terdalam ada penyesalan, “Kenapa lebaran lalu aku tak pulang?”.

Sebagai penutup, pertanyaan yang paling penting, sebenarnya kita merantau ini apakah hanya untuk masa depan sendiri atau juga keluarga? Jika untuk keluarga juga, maka ada pertimbangan si anak rantau untuk segera pulang, meskipun hanya berkantong tipis, atau juga harus mendapat celaan dari orang-orang sinis yang kerap sepele, “Kok jauh-jauh merantau tidak ada perubahan.”.  [Asmara Dewo]

 

Baca juga:

Bulan Ramadhan, Waktu yang Tepat Belajar Menutup Aurat

Ketika Lebaran Memanggil Anak Rantau

Mencapai Target Hidup Karena Allah SWT

Hanya Allah yang Menentukan, Sekalipun Dokter sudah Menyatakan Kematian

Akhir Kehidupan Manusia dan Tiga Amalan yang Tak Ada Putusnya



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas