Ilustrasi pesawat | Foto Shutterstock

Asmarainjogja.id – Pulang kampung alias mudik adalah hal yang menyenangkan pada saat lebaran. Di mana kerinduan terhadap keluarga, kerabat, sahabat, terbayar tuntas saat mudik. Pada umumnya mereka yang tinggal di kota memang sudah menabung jauh-jauh hari sebelumnya hanya untuk pulang kampung di saat moment lebaran. Sungguh sangat menyenangkan memang. Itu bagi yang punya kampung, lalu bagaimana yang tidak punya kampung halaman lagi?

Sebenarnya definisi kampung halaman ini juga belum jelas. Apakah kampung halaman itu tempat kita lahir? Atau kampung halaman itu tempat orangtua kita menetap? Misalnya, andai saya lahir di Amerika Serikat, apakah lantas kampung saya di sana? Atau juga ketika orangtua yang berpindah-pindah kota, dari kota A ke kota B, lalu ke kota C lagi, selanjutnya pindah lagi sampai ke kota Z. Kalau seperti ini kasusnya, kampung halamannya di kota mana coba?

Sebagai seorang perantau, saya sering ditanyai begini, “Bro, pulang kampung nggak?” atau juga dari pihak saudara saya sendiri, “Lebaran ini pulang, kan, Bang?” jujur saja ini salah satu pertanyaan sulit bagi saya. Terlebih lagi tempat tinggal orangtua saya nun jauh di Sumatera Utara, tinggal di dusun pula. Sedangkan saya sudah menetap di Yogyakarta hampir 2 tahun. Nah, untuk biaya ke sana itu mahal banget bagi kantong saya. Di musim lebaran itu tiket pesawat bisa mencapai 2 kali lipat lebih, yang biasanya hanya sekitar 800 ribu, kalau lebaran bisa sampai 2 juta. Wissshh… gila, men.

Nah, kalau sudah dipesan jauh hari mungkin dapat 1 juta lebih. Oke, perginya mungkin dapat tiket murah. Pulangnya tidak mungkin, guys. Tiket pesawat bisa sampai 2 juta. Ini pengalaman saya tahun lalu. Karena biar lebih murah, terpaksa saya naik bus. Eh, ternyata naik bus, kalau dihitung-hitung biayanya semua sama saja naik pesawat. Biaya makan yang mahal, lamanya di perjalanan, dan busnya juga suka mengoper penumpang ke bus lainnya. 

Terkadang stigma orang di kampung seperti ini, seorang perantau dianggap sukses kalau penampilannya “wah”, punya harta benda yang mahal, gaji yang tinggi, dan tentunya badannya tampak subur (gendut). Kalau kurus saat pulang kampung dianggap tidak sukses di perantauan. Mungkin begini pandangannya, bagaimana sukses saat merantau, makan juga susah, tuh buktinya badan ceking kayak cacing. Sebenarnya tidak salah pandangan seperti itu, hanya saja terlalu menggelikan bagi seorang perantau sejati.

Sesungguhnya merantau itu bukan soal perkara sukses saja, tapi lebih dari itu. Kalau hanya untuk dipandang orang sukses di kampung, itu mudah saja. Tinggal sewa saja harta benda untuk dibawa saat mudik, bilang sama mereka itu mobil saya, bohongi juga kalau di perantauan sudah beli tanah plus rumah di pinggir kota. Dan biar lebih keren lagi saat ini posisi di perusahaan sudah cukup strategis, jabatan sekarang manajer. Memangnya mereka tahu apa yang sebenarnya kehidupan kita di perantauan? Kan, tidak, toh? Jadi gampanglah hanya untuk membohongi.

Dan ketika kita berusaha jujur dengan orang-orang di kampung bahwa kita belum sukses, pada umumnya mereka mencibir dan sepele sekali. Biasanya seperti ini, “Ngapain jauh-jauh merantau kalau penghasilannya cuma segitu. Mending di kampung aja kalau begitu”. Tidak ada yang salah dengan komentar seperti itu hanya saja peluang kesuksesan di kota jauh lebih besar daripada tinggal di kampung. Orang-orang yang sukses di perantauan paham betul soal ini.

Apalagi merantau di Yogyakarta, orang-orang Sumatera tentulah tidak habis pikir kenapa mau-maunya merantau ke Kota Pendidikan ini. Sementara orang-orang di Pulau Jawa pada merantau ke Sumatera. Kalau dipandang soal penghasilan berdasarkan UMR, memang Kota Yogyakarta kecil sekali UMR-nya, hanya saja mereka tidak akan paham bagaimana orang cerdas yang merantau di Yogyakarta.

Saya yang sempat bekerja di Kota Medan, memang penghasilan saya jauh lebih besar dibandingkan saat pertama-tama tinggal di Kota Gudeg ini. Untuk mendapatkan 1 juta saja, harus pontang-panting mencapai target saat bekerja di sini. Hanya saja sebelum saya memutuskan tinggal di sini, saya bertekad untuk bergelut di dunia menulis. Dan latar belakang saya yang memang sejak kecil di dunia perdagangan, membuka mata saya lagi di Yogyakarta. Barang-barang apa saja sangat murah di Yogyakarta, dan inilah kesempatan untuk “membuangnya” ke luar pulau. Target pasarnya adalah Pulau Sumatera, khususnya Kota Medan, karena dari sanalah asal saya.

Ketika pihak keluarga saya sendiri sepele terhadap saya, saya hanya kuatkan di dalam hati, permainan belum selesai, ini masih permulaan. Tunggu bisnis saya berkembang, kota yang saya pilih tak akan meleset dari prediksi saya 2 tahun yang lalu. Sudahlah tidak membantu dari segi modal, tapi malah menyepelekan, bukankah itu tidak buat ngenest?

Uniknya, takdir terkadang berpihak pada saya, mungkin juga karena saya pandai menjalin hubungan pada orang-orang yang saya anggap baik. Modal bisnis juga dari orang-orang yang begitu baik terhadap saya, sampai akhirnya bisnis saya terus berkembang. Jujur saja dalam berbisnis itu sebenarnya modal bukan hal yang utama, tapi tekad untuk berbisnis itulah yang paling utama.

Nah, untuk modal, saya sendiri saya lupa, kalau tidak salah sekitar 1,5 juta. Kecil sekali, bukan? Ya, memang kecil, itu awal. Ketika saya sudah fight, modal-modal lain ternyata jatuh dari langit. Seperti kehujanan modal. Salah satu rekan bisnis saya, ya, si menyebalkan itu alias Rizka Wahyuni. Jadi klop sudah modal ditambah dari dia, bisnis saya yang menjalankan. Saat itu dia masih fokus kuliah keperawatan di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, sekarang sudah tamat dan sedang mengikuti tes magister di UGM.

Bisnis apa yang pertama saya mulai? Pertama jualan kaos, dan kedua situs. Dari kedua bisnis ini tidak terlalu signifikan keuntungannya. Tapi saya tetap menulis, menulis, dan menulis. Kepercayaan pembaca saya semakin baik. Komunikasi saya dengan pembaca juga cukup erat. Rizka saat itu belum tertarik terjun di bisnis, ia hanya sebagai pemodal. Saya juga mendesaknya berulang-ulang, “Ayolah bisnis, Dek, kita nggak bisa seperti ini terus”. Tapi dia tetap tidak tertarik ke bisnis. Ya, sudah saya malas memaksanya.

Sampai suatu hari Rizka mendapat hidayah ingin berbisnis jilbab. Ketika dia bicarakan soal bisnis itu ke saya, saya pun menyambutnya dengan gembira sekali. Konsep bisnis kami bicarakan, jelang beberapa hari kemudian launcinglah produk kami. Karena saya sudah menulis bertahun-tahun jadi pembaca fanatik saya cukup banyak, mereka inilah konsumen pertama-tama, dan tentunya teman-teman kampus Rizka.

Perkembangan bisnis kami benar-benar kelihatan di bulan ke-4, keuntungan per hari 200 ribu atau lebih sudah dikantongi. Rizka yang pertama kali mendapatkan keuntungan sangat terkejut, meskipun abangnya juga punya bisnis yang juga jauh lebih hebat dari adiknya. Saya bilang ke Rizka, “Kalau usaha warnet itu, Dek, itu usaha keluargamu, bukan bisnismu. Tapi kalau jilbab ini real bisnismu. Banggalah dengan keuntungan itu. Hasil jerih payahmu sendiri.” Rizka juga membanding-bandingkan gajinya dengan keuntungan bisnisnya.

Bisnis jilbab itu adalah bisnis pertamanya, kalau saya sendiri tidak heran keuntungan sehari hanya segitu, dulu saya bisnis ponsel sehari bisa dapat 500 ribu. Jadi keuntungan segitu masih kecil, bisa lebih besar kalau serius dan lebih getol lagi dalam menjalan bisnis jilbab itu. Itulah yang sering saya bilang ke Rizka.

Pihak keluarga saya di kampung juga tidak bisa memahami cara berpikir saya. Saya bilang juga sama mereka, di Yogyakarta itu saya bukan sekadar merantau, tapi juga ingin belajar, salah satunya adalah belajar menulis. Saat itu kembali belajar di pendidikan formal belum terpikirkan, karena biaya pendidikan cukup mahal. Jadi saya hanya belajar terus menerus secara otodidak, di antaranya adalah mondar-mandir ke Perpustakaan Kota Yogyakarta. Para predator buku tentu paham ini.

Lagi-lagi ada kabar baik, tampaknya takdir langit kembali berpihak ke saya, kalau tidak ada halangan saya kembali masuk kelas di Kota Pendidikan ini. Melanjutkan pendidikan formal yang pernah tertunda ketika di Medan dulu. Salah satu saya pergi meninggalkan Kota Medan, ya, karena pendidikan ini juga. Terpukul sekali saya saat itu. Tapi, ya, sudahlah setidaknya saya sudah siap belajar hukum kembali.

Sebagai seorang penulis, ingatan saya cukup tajam, terhadap mereka yang pernah menyepelekan saya. Meski begitu saya tidak dendam, saya jadikan sebagai cambukan untuk membuktikannya, bahwa apa yang saya ucapkan bukan bualan belaka. Karena saya seorang perantau yang memegang prinsip. Hasil adalah bukti nyata. Dan untuk ini tentunya saya membutuhkan waktu lagi.

Sebagai seorang perantau menurut saya satu-satunya logika untuk sukses adalah berbisnis. Lain dari itu sangat kecil peluangnya, terlebih lagi hanya mengandalkan ijazah SMA. Kalau orang Sumatera menganggap merantau ke Pulau Jawa adalah langkah yang keliru, saya pikir karena mereka tidak tahu bermain di sini. Kalau hanya kerja, ya benar. Cobalah ke bisnis, pasti terbuka pikirannya, bukankah banyak sekali barang-barang di Sumatera itu asalnya dari Jawa? Ini yang terkadang diabaikan oleh kita semua.

“Jadi gimana, Bro, pulang kampung nggak?”

“Belum dulu, deh. Males aja disepelein di kampung lagi.” [Asmara Dewo]

  Baca juga:

Menjadi Seorang Pencipta, Bukan Si Penerima

Lima Penyebab Kemiskinan dari Diri Sendiri

Inilah Harta Terbesar Manusia

Memahami Keseimbangan Hidup

padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas