Kali Code, Yogyakarta | Foto AIJ

Asmarainjogja.id-Sore itu angin begitu sejuk, sinar raja siang begitu lembut menyentuh bumi Istimewa Yogyakarta. Anak-anak di seberang sungai tampak riang bermain bola, tak jauh dari mereka ada angkringan, tepatnya di bawah jembatan. Tembok yang memagari sungai itu belum sepenuhnya usai, namun dari kejauhan tampai begitu elok tembok berwarna hijau dengan kombinasi warna kuning di atasnya.

Di bantaran Kali/Sungai Code, kami duduk menikmati wajah lain Kota Yogyakarta ini. Sebuah kota istimewa yang begitu tersohor ke dunia, baik dari pendidikannya, alam wisatanya, aktivitas budaya, peninggalan situs sejarah, sampai warganya yang ramah. Tak heran pula, sebagian dari sahabat atau keluarga kita ingin berlibur di sini, merasakan bagaimana bumi kesultanan ini saat mendekap dan memanjakan setiap pengunjung yang datang.

Aliran sungai itu berwarna cokelat kekuningan, padahal dulu menurut cerita teman dari neneknya, Kali Code ini warnanya hijau dan begitu bening, banyak sekali mata airnya. Bahkan pula sungai ini dulunya tempat mandi para warga di sini, saking begitu bersihnya. Itu cerita dulu. Namun sekarang sungguh berbeda, air yang berwarna cokelat begini dan ada pula tumpukan sampah di tepian sungai, apa rela air sungai itu untuk membasuh badan kita? 

Kali CodeMenatap wajah lain Yogyakarta dari Kali Code | Foto AIJ

Alih-alih mau bersih dan sehat, yang ada malah semakin kotor dan berpenyakit. Penyalit kulit mungkin. Bukankah suatu daerah yang sehat, juga ditandai dari sungainya yang sehat? Perhatikan saja lingkungan sendiri, kalau di sekitar kita saja kotor, kumuh, pengab, udara yang tidak segar, pasti kita sendiri terserang penyakit.

Saat kami melintas di Kampung Jagoyudan, perumahan di sana cukup bersih, hanya saja sempit. Antara rumah satu dengan rumah lainnya saling berdempetan, bahkan juga ada yang masak di tepi jalan. Apakah itu dapur atau bagaimana, saya tidak tahu pasti. Walaupun gang itu sempit, namun ada juga warga di sana yang memiliki mobil, dan garasinya di tepi jalan yang ditutup dengan kain terpal berwarna biru yang terpancang dengan tiang kayu.

Nah, walaupun sempit begitu gangnya, jangan khawatir! Ada halaman untuk berputar mobil yang cukup luas. Selain digunakan untuk berputar mobil, juga untuk parkir kendaraan motor milik warga yang berdekatan dengan halaman itu.

Di kelurahan Prawirodirjan juga terdapat dua gedung rumah susun yang berdiri megah di bantaran kali code itu. Dan di depan rumah susun tersebut, ada Masjid yang tampak begitu sibuk aktivitas belajar/mengaji anak-anak. Tepat di pinggir kali code itu, para tukang sedang membangun pagar tembok membentengi kali code dan perumahan warga. Sayang sekali, sebenarnya kami ingin melintasi jalan itu, namun jalan “diblokir” sementara karena aktivitas pembangunan pagar tembok. Kalau sudah selesai pagar tembok itu, bantaran Kali Code akan semakin cantik dan nyaman.

Lampu-lampu billboard iklan sudah menyala, kereta api di atas jembatan berlalu lalang, dan burung bermesin tampak gagah di angkasa  yang akan mendarat di Bandara Adi Sucipto. Seorang ibu dengan berpakaian kumuh meggendong goni yang berisi butut, botol-botol minuman. Anaknya berusia sekitar enam tahun tampak buru-buru turun ke sungai. Sambil bermain-main air anak kecil tersebut buang air besar di Kali Code. Padahal jelas sekali ada plang larangan: INI SUNGAIKU, BUKAN TOILETMU.

Kami pun duduk dan mengobrol-ngobrol dengan ibu yang tampak letih setelah mencari butut itu. Sehari-hari pekerjaan ibu ini mencari butut di tengah kota, mulai siang hari sampai senja. Dan suaminya sendiri menarik becak. Penghasilannya sehari dari hasil jual butut Rp 15.000, dan kadang juga bisa dapat Rp 20.000. Lumayanlah bisa membantu keuangan keluarganya.

“Anak-anak itu dibiarkan saja, Mas, jangan dilarang-larang,” jawab ibu tersebut, saat saya tanya kenapa dibiarkan anaknya buang air besar di Kali Code. Padahal aliran sungai itu belum tentu bersih.

Saya jadi sedih sendiri, padahal seorang pak tua baru saja membersihkan Kali Code ini. Menurut kabar dari warga, pak tua itu setiap sore ke Kali Code untuk membersihkan sungai. Mengangkat kayu, sampah, batu-batu, lalu ia naikkan ke tepian sungai. Di sini ada 3 warga yang rajin dan peduli sekali terhadap Kali Code, setiap harinya mereka membersihkan sungai yang membelah kota Yogyakarta ini dari utara, Gunung Merapi, sampai selatan, Pantai Parangtritis. Dan satu orang di antaranya meninggal beberapa bulan yang lalu. 

Warga yang setiap hari membersihkan kali codeWarga yang setiap hari membersihkan kali code  | Foto AIJ

Saya ingat jelas raut wajah Pak Tua yang berkaos kuning  itu saat ia menatap seorang warga yang membuang ranting-ranting pohon, dan batang batang pohon ke tepian sungai. Ada rasa kecewa tampak di wajah tuanya. Tapi ia berlalu begitu saja, mungkin sudah letih melihat warga yang tidak peduli, bahkan menganggap sungai itu seperti tempat sampah.

Ini adalah kontras pemandangan wajah lain di Yogyakarta, di sisi lain beberapa warga menjaga Kali Code setiap harinya, beberapa warga lain sesenaknya membuang apa saja yang mau mereka buang. Termasuk membuang kotoran.

Hari mulai gelap, ibu tadi pulang bersama anaknya. Kami pun berdiri, segera pulang. Sebelum meninggalkan duduk tempat kami mengobrol-ngobrol tadi, seorang pemuda tampak ingin membuka celananya. Entah apa yang dilakukannya selanjutnya, buang air besarkah atau hanya buang air kecil? Namun yang jelas, di plang larangan itu tertulis besar: INI SUNGAIKU, BUKAN TOILETMU.[]

Penulis:  Asmara Dewo

Baca juga:  Hiburan Jathilan Masih Menjadi Primadona di Dusun Mendak

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas