Ilustrasi Otak Manusia | Foto Shutterstock

Asmarainjogja.id – Pada dasarnya manusia itu sifatnya kritis, ingin tahu banyak hal, yang kemudian ia akan mencari tahu apa saja yang tidak diketahuinya. Dan kita tahu bahwa kehidupan itu sendiri merupakan teka-teki, hanya orang-orang tertentu saja yang ingin mencari jawabannya.

Rasa keingintahuan ini pula yang mengantarkan ia menjadi apa yang diinginkannya. Di kemudian hari ia akan menjelma menjadi apa yang ia impikan. Terkadang pula, orang-orang yang memiliki sifat kritis ini dianggap sepele, “Tak mungkin” begitu orang sering komentar.

Nah, orang-orang sepele ini akan tekejut ketika penilaiannya keliru terhadap siapa saja yang dianggapnya lebih hebat dibandingya. Padahal manusia saling berlomba dalam banyak hal, entah itu di dunia politik, ekonomi, profesi, dan lain sebagainya.

Dan siapa yang bersungguh-sungguh, tekun belajar, bekerja keras, dan lebih banyak doanya lagi, akan menggilas siapapun yang ada di depannya. Termasuk menggilas orang-orang yang sepele tadi.

Mungkin ini seperti cerita klasik yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarakat. Orang miskin di suatu daerah, kerap dikucilkan di lingkungan sosialnya. Tak hanya dikucilkan, bahkan ejekan dan hinaan menjadi makanan sehari-harinya.

Sanggupkah ia menerima perlakuan itu saban hari? Pada umumnya manusia yang mengalami perlakuan demikian tidak sanggup. Sebagian pula ada yang hanya berlapang dada, dan menerima itu dengan sabar. Sabar atau tidaknya, manusia yang dihinakan tadi akan berpikir keras, bagaimana ia agar tidak dihinakan lagi.

Otaknya akan bergerilya, apa yang harus dilakukan, bagaimana cara mengubah ini semua, dan strategi jitu apa yang memungkinkan agar kehidupan berubah derastis. Di sinilah ujian mental bagi anak manusia yang disepelekan tadi. Ia akan mengambil jalan buruk dan jalan yang baik.

Kedua cara seperti ini bisa mengantarkannya menjadi apa yang ia impikan. Hanya saja sampai seberapa jauh kedudukan itu dipertahankannya. Sudah menjadi hukum alam, dimulai dari keburukan akan berakhir dengan keburukan, begitu juga sebaliknya. Kita tinggal memilihnya jalan mana yang akan kita tempuh.

Contohnya saja sebagai seorang saudagar, bukan rahasia umum lagi jika profesi ini ditekuni dengan serius akan mengantarkannya menjadi orang kaya raya, milyoner. Yang usahanya akan terus bekembang pesat, mengcengkram di setiap kota di negerinya. Namun jangan pernah dilupakan, bagaimana awal ia merintisnya.

Cukup banyak juga saudagar-saudagar yang sudah sukses, akhirnya bangkrut juga di kemudian hari. Hal yang demikian bisa juga cobaan dalam hidup, namun bisa juga sebagai balasan yang sudah ia lakukan sepanjang perjalanannya menjadi saudagar.

Nah, sejauh sepak terjang di setiap profesi anak manusia itu, diawali dengan rasa ingin tahu, kritis, belajar, dan bekerja keras. Jika tidak salah langkah, dan terus berjalan mengikuti pedoman yang baik, maka ia akan sampai pada tujuannya. Tujuan yang baik, diridhoi orang-orang di sekitarnya, dan segenap seisi semesta turut menjaganya.

Harus diingat, mungkin kita terlalu sepele terhadap orang lain. Menganggapnya tidak ada apa-apanya, apalagi pendidikan dan hartanya tidak menjamin. Kita lupa bahwa harta terbesar manusia adalah otak. Otak inilah yang akan mengubah seseorang yang sama sekali di luar dugaan manusia lainnya.

Selagi masih punya otak dan kemauan, itulah modal kehebatan manusia. Semakin disepelekan, maka otaknya semakin bekerja. Semakin direndahkan, kemauannya pun semakin menggebu-gebu. Di hatinya tersimpan dendam positif sebagai pembuktian apa yang selama ini dinilai orang lain adalah keliru. Dan ia membuktikannya. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Memahami Keseimbangan Hidup

Pemimpin yang Terbaik tapi Tidak Baik

Belajar yang Paling Menyakitkan adalah Tanpa Pengajar

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas