Danau Warna | Foto AIJ

Asmarainjogja.id-Mungkin sahabat muda selama ini bertanya-tanya negeri di atas awan itu bagaimana, ya? Atau juga ada yang beranggapan hanya istilah saja. Bagi seorang pendaki, tentu saja negeri di atas awan sudah kerap kali diperbincangkan, namun bagaimana jika yang belum pernah mendaki?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu terbersit di pikiran mereka yang belum pernah menatap keindahan awan putih yang menggantung di langit.  Jadi, jika sahabat muda ingin menyaksikan sendiri bagaimana ciptaan Tuhan yang begitu indah, yang disebut-sebut negeri di atas awan, maka datanglah ke Dieng, Wonosobo.

Dataran tinggi Dieng adalah kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah, yang masuk di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, letaknya berada di sebelah barat kompleks gunung Sindoro dan dan Gunung Sumbing.

Dieng juga disebut dataran tertinggi di  pulau Jawa,  tepatnya di Desa Sembungan.  Ketinggian Desa Sembungan 2,306 mdpl. Suhu di sana berkisar 12-20 derajat ceslius di siang hari, dan 6-10 derajat celsius pada malam hari. Cukup dingin, bukan?

Wisatawan yang berkunjung di negeri awan tersebut dari berbagai manca Negara, tentunya juga dari wisatawan domestik dari penjuru Indonesia. Belakangan ini Dieng memang menjadi hits perbincangan para wisatawan atau backpacker, maka tak heran pula jika dataran tertinggi di pulau Jawa ini tak pernah sepi pengunjung.

Ada banyak objek wisata yang bisa sahabat muda nikmati, di antaranya:

1. Golden Sunrise di Bukit Sikunir

Di puncak Sikunir, konon mereka yang pernah menatap si bundar orange di pagi hari adalah golden sunrisenya di Jawa Tengah, dan di dunia sendiri merupakan salah satu sunrise terindah. Namun, saat kami berkunjung ke sana, cuaca tidak begitu bersahabat, mendung menggelayut di bumi Dieng Plateau.

 

Sang mentari enggan menampakkan rona jingganya di langit timur. Semburat yang biasa membias membingkai angkasa, tak secuil pun tampak kelihatan di sana. Walaupun begitu, keindahan di bukit Sikunir, selalu memanjakan pengunjung yang menunggu keajaiban alam.

Gunung Sindoro yang kokoh menjulang tinggi itu diselimuti awan putih di pagi hari, di kakinya juga tampak pemukiman warga dari bukit Sikunir, dan tanaman kentang yang bertingkat-tingkat tampak jelas dari puncak Sikunir.

Dari berbagai informasi yang kami dapat, kalau saja cuaca cerah, dari sini juga bisa melihat Gunung Sumbing, Merbabu, Merapi, Unggaran, dan Slamet.  Biasanya para pengunjung yang akan datang ke sana, sudah besiap-siap mulai pukul empat pagi, karena tidak mau ketinggalan moment sang golden sunrise.

Untuk biaya masuk ke lokasi dikenakan tiket sebesar Rp 10.000, dan parkir Rp 3.000. Di area parkir, pengunjung juga bisa menikmati Danau Kecebong yang tampak begitu damai dan sejuk. Dan di sini pula, berdiri tenda-tenda yang menancap di pinggiran danau.

Nah, kalau sahabat muda ke Dieng ingin nge-camp, di Danau Kecebong inilah tempatnya. Di lokasi Danau Kecebong juga menyediakan sewa tenda, namun tak ada salahnya jika membawa persiapan berkemah dari rumah. Guna untuk menghemat budget.

Danau Kecebong

 

Menuju puncak, terdapat warung-warung yang menjual makanan khas Dieng. Salah satunya adalah kentang semur. Kentang semur ini rasanya gurih, manis, dan pedas.

“Bahannya kentang, gula merah, bawang merah, bawang putih, garam, dan penyedap rasa,” ujar ibu penjual kepada kami, saat menikmati hidangan yang belum pernah kami coba ini.

Nah, perlu sahabat muda ketahui, di setiap jengkalnya bumi Dieng terdapat perkebunan kentang, di sinilah salah satu penghasil kentang terbesar di Indonesia. Juga buah carica, yang bentuk buah dan pohonnya seperti pepaya.

 

2.  Kawah Sikidang

Kawah Sikidang adalah kawah yang mungkin asing didengar oleh sahabat muda. Sebab, cerita dari warga sekitar letak kawah utama ini berpindah-pindah. Itulah sebabnya diberi nama Kawah Sikidang, yang artinya Kijang. Diambil dari sifat kijang yang melompat-lompat atau berpindah-pindah.

Asap kawah begitu tebal dan bau blerangnya begitu menyengat hidung, masker pun yang kami pakai menembus hidung. Sesekali terbatuk dan sesak napas. Kawah itu dipagari bambu, karena memang berbahaya bagi pengunjung.

Kawang Sikidang

 

Kami melihat kawah itu mendidih panas, bergelembung, dan mengeluarkan asap yang membumbung tinggi. Di sana juga ada tempat untuk merebus telur, bagi pengunjung yang ingin merasakan telur dengan sensasi perebusan dari kawah, mungkin tak ada salahnya untuk mencobanya.

Di sepanjang menuju kawah, ada pedagang-pedagang yang berjualan kerupuk kentang mentah  dan juga menjual belerang untuk obat kulit. Juga makanan ringan dan minuman soft drink.

Biaya masuk dari Dieng, Wonosobo Rp 5.000. Namun jika masuk dari Banjarnegara tiketnya sebesar Rp 10.000, dan itu termasuk tiket Candi Arjuna, dan Candi Gatotkaca.

 

3. Candi-candi Indah di Dieng

Selain wisata alam yang begitu memesona, Dieng juga dianugrahi berbagai candi-candi indah peninggalan agama Hindu. Walaupun candi di sini tidak sebesar Prambanan atau Borobudur, namun candi ini diperkirakan candi tertua di pulau Jawa. Itu juga sebabnya warga asing berbondong-berbondong menyaksikan situs sejarah peninggalan awal mula penyebaran agama Hindu di Indonesia.

 

a. Candi Arjuna berlokasi di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Kompleks candi arjuna memiliki luas berkisar 1 hektare. Di kompleks ini terdapat 5 bangunan candi, yaitu: Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.

Candi Arjuna

 

Ketika kami di sana, rombongan siswa dari Sekolah Dasar Negeri Dieng Wetan sedang sibuk mengerjakan tugas dari guru di pintu Candi Arjuna dan Candi Semar.

“Sedang menggambar candi, untuk tugas Seni Budaya Keterampilan,” jawab salah satu murid saat kami menanyai mereka.

 

b. Candi Setyaki letaknya berdampingan dengan Candi Arjuna, hanya berbeda kompleks saja. Di candi ini sepi pengunjung, padahal candi ini tak kalah menarik dan indah dibandingkan candi arjuna.  Jalan setapak yang menggiring kami ke sana, melewati ladang kentang dan wortel milik warga. Dan tampak sibuk para petani menggarap lahannya sembari tersenyum ramah saat berpapasan dengan kami.

Candi Setyaki

 

 

c. Candi Gatotkaca, berlokasi yang tidak jauh dari kompleks Candi Arjuna. Jalan yang menghubungkan kami ke sana diapit kembang (bunga) Sepatu sebagai dinding jalan menuju ke sana. Juga pepohonan yang rindang menanungi sepanjang kaki kami melangkah.

Sebenarnya di Candi Gatotkaca juga terdapat Candi Nakula, Candi Gareng, Candi Petruk, dan Candi Sadewa. Hanya saja, Candi Gatotkaca yang masih utuh, dan itu pun bagian atasnya sudah hilang. Nah, candi lainnya tinggal puing runtuhan bebatuan saja, dan peninggalan sejarah lainnya disimpan di Museum Kailasa Dieng, yang lokasinya ada di depan Candi Gatotkaca.

 

 

d. Candi Bima adalah candi yang paling unik diantara candi-candi lainya di Dieng, bahkan juga di Indonesia sendiri. Sebab candi yang terletak di Dieng Kulon ini mirip dengan beberapa candi di India. Dengan bentuk bagian atapnya seperti mangkuk ditangkupkan, seperti bentuk shikara.

Candi Bima

 

e. Candi Dwarawati masih terlihat kokoh berdiri di tengah-tengah ladang warga Dieng Kulon. Sama dengan candi-candi lainnya, dibangun sekitar abad 8 Masehi. Dan nama candi yang satu ini tidak seperti candi yang memakai nama tokoh pewayangan.

Dulu di tempat ini juga ditemukan Arca Ganesha, Agatsya, dan Arca Dwidurga, yang kini dipindahkan ke Museum Kailasa Dieng. Di sekitar candi juga terdapat runtuhan batu yang diduga merupakan sisa bangunan candi lain, seperti: Candi Pandu, Candi Margasari, dan Candi Parikesit, yang kini hilang tak tersisa.

 

Keunikan candi Dwarawati bangunannya seperti bangunan bertingkat, karena bentuk atapnya dibuat sama dengan tubuh candi. Di keempat sisi atap terdapat relung tempat untuk meletakkan arca. Tapi, saat ini puncak atap sudah tak tersisa lagi, sehingga tidak diketahui bentuk aslinya.

Setelah kami berkunjung ke candi, beberapa warga sedang memanen daun sledri, yang tak jauh dari candi tersebut. Karena memang lokasinya berada di ladang warga, kami pun melihat berbagai kesibukan para petani Dieng Kulon.

 

4. Telaga Warna

Objek wisata Telaga Warna merupakan andalan wisata negeri di atas awan ini. Sifat warnanya yang berubah-ubah karena mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar matahari mengenainya, maka air telaga tampak berwarna-warni. Pengunjung bisa menikmati keindahan telaga warna dan telaga Pengilon dari Bukit Ratapan Angin.

Danau Warna

 

Dan saat kami mengambil foto, warna telaganya tampak kehijauan toska saja, karena cuacanya memang mendung. 

Di puncak Bukit Ratapan Angin, kami juga melihat keindahan alam perbukitan yang ada di atas dua danau tersebut. Dan ladang sayur-sayuran yang tumbuh menghijau di kaki-kaki bukit. Menambah keelokan kesempurnaan Telaga warna.

Nah, di lokasi Danau Warna, juga terdapat wisata legenda seperti: Gua Semar, Gua Sumur, Kolam di Gua Sumur, Goa Jaran, dan Batu Tulis.

Di pintu masuk, pengunjung disambut dengan berbagai bunga khas Dieng. Seperti Bunga Warna dan Bunga Senggami. Dan memang Wonosobo sendiri disebut juga Kota Kembang. Maka tak heran pula di Dieng terdapat berbagai macam bunga yang sengaja ditanam maupun tumbuh liar begitu saja.

Itulah beberapa objek wisata yang sempat kami kunjungi. Karena saat kami di sana, hujan selalu membasahi bumi Dieng. Jika sahabat muda ingin berwisata ke Dieng, alangkah lebih baik lagi di Bulan Agustus, karena selain cuacanya bagus untuk menikmati alamnya yang indah, juga pada bulan itu ada festival pemotongan rambut anak gimbal.

Berdasarkan keterangan warga, anak-anak berambut gimbal di Dieng adalah titipan dari Kyai Kolo Dete. Kyai Kolo Dete adalah salah satu punggawa dari kerajaan Mataram Islam yang mendapatkan wahyu dari Ratu Pantai Selatan untuk mensejahterakan masyarakat Dieng.

Jika sahabat muda di hari-hari besar seperti: lebaran, tahun baru, natal, dan festival pemotongan rambut anak gimbal di bulan Agustus. Sudah jauh-jauh hari booking penginapan di sana. Karena padatnya wisatawan yang berkunjung ke Dieng, seringkali kehabisan kamar.

“Kalau hari besar pesan kamar dulu, tiga bulan sebelum keberangkatan. Kalau nggak, semua penginapan di sini penuh semua, Mas.” Ujar Andre, pengelola Hotel Bu Djono kepada kami.

Hotel dan Restoran Bu Djono mungkin bisa jadi alternative bagi backapaker saat berkunjung ke Dieng. Selain kamar hotel dan makanan murah, juga dilayani dengan keramah-tamahan khas warga Dieng.

Saat kami makan di restoran tersebut, hilir mudik bule-bule dari berbagai Negara makan dan masuk hotel. Pria ramah itu juga menuturkan hotel Bu Djono inilah yang pertama kali berdiri di lokasi wisata Dieng.

Di sini juga menyediakan perlengkapan tenda untuk camping dan jasa guide. Ongkos sewa tenda komplit dengan peralatan lainnya sebesar Rp 350.000 per hari. Kalau kamar hotel di sini mulai Rp. 75.000. Terbilang murah memang jika dibandingkan dengan hotel-hotel di sekitar Dieng.

Oke, sahabat muda, jika ingin menikmati masa liburan di Dieng, silahkan dengan gaya masing-masing. Ingin mendirikan tenda tentu lebih seru di tepi Danau Kecebong, jika menginap di hotel juga tak ada salahnya. Yang jelas jika hanya menikmati sehari saja itu tidak cukup. Karena terlalu banyak objek wisata di negeri di Atas awan ini.

Saat kami berkunjung hanya objek wisata di ataslah yang sempat kami kunjungi. Objek wisata lainnya masih tertunda, seperti: air terjun Imrawu, air terjun Sikarim, air terjun Sirawe,Danau Dringo, sumur Jalatunda, air panas Pulasan, dan masih banyak lagi objek wisata lainnya.

Seperti kepercayaan warga Dieng sendiri, mungkin dari titisan anak rambut gimbal, keindahan dan fenomena alam, peninggalan warisan budaya sejarah berupa candi, kesuburan tanah yang dimilikinya, mampu mendatangkan berbagai wisatawan lokal maupun asing, hingga berefek kesejahteraan masyarakat Dieng.

Penulis: Asmara Dewo







style="display:inline-block;width:336px;height:280px"
data-ad-client="ca-pub-6494373068136966"
data-ad-slot="5395788730">



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas