Waktu, setiap detiknya harus diperhitungkan (ilustrasi) | Foto Flickr

Asmarainjogja.id – Sejak turunnya Al-Quran ke Bumi melalui Malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT sudah mengingatkan pada umatnya akan kehati-hatian tentang waktu. Itu artinya sekitar 15 abad yang lalu sudah diingatkan kepada manusia, khususnya umat Islam agar bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS.Al-Ashr:1-3).

Sekarang tentu kita bertanya-tanya, kenapa nasib kita berbeda dengan orang lain? Kenapa dia kaya, sementara saya tidak? Kenapa juga dia sangat cerdas, sedangkan saya belum banyak tahu, bahkan terbilang bodoh? Kenapa jabatan dia sekarang sudah tinggi, sementara saya masih saja jadi bawahan?

Siapa saja tentu pernah berpikiran begitu, bukan? Ya, itu hal yang manusiawi sekali, dan memang harus seperti itulah jadi manusia, selau ingin tahu agar berbagai pertanyaan kehidupan satu persatu terjawab. Kalau merujuk dari surat Al-Ashr tersebut, perubahan manusia dalam aspek apa saja tak luput dari bagaimana seseorang memanfaatkan waktu dalam  kesehariannya.

Allah SWT Maha Adil, setiap kita mendapatkan jatah waktu sehari, selama 24 jam. Itu artinya waktu tidak berpihak pada siapapun dan apapun. Dan harus diingat, waktu tak pernah kembali, sekali kita meninggalkannya, kita tidak akan pernah menyusul. Maksudnya adalah jika hari ini kita ada kesempatan, maka esok tak ada lagi kesempatan yang sama. Waktu, kondisi, dan semuanya yang menyangkut dengan kesempatan itu tentu sudah berubah.

Nah, untuk menjawab dapat jatah yang sama, tapi hasilnya berbeda? Mari kita jawab dengan jawaban yang begitu sederhana. Misalnya antara pedagang si A dan pedagang si B, mereka sama-sama berjualan barang harian di rumahnya, ya seperti sembako. Pedagang A membuka warungnya setelah sholat subuh, sedangkan pedagang B membuka warungnya pukul delapan. Dan tutupnya warung pedagang si A menjelang maghrib, sedangkan warung pedagang si B pukul enam belas.

Jadi kesempatan untuk bertransaksi jual-beli lebih banyak pedagang si A, daripada pedagang si B.  Tak heran jika pedagang si A, setiap bulannya meningkat drastis jualannya. Hasilnya pun, si pedagang A terlihat lebih kaya dan sukses di bandingkan dengan pedagang si B. Ini salah satu contohnya, namun sama juga dengan kasus dalam karir, pendidikan, dan lainnya.

Mungkin kita sudah mengenal istilah mencuri waktu, tapi  di sini bukan mencuri waktu seperti bolos kerja atau bolos belajar. Hanya saja melangkah lebih awal dari orang lain. Pukul lima itu adalah waktu yang paling berat dikerjakan oleh manusia? Pada jam-jam begitu, manusia pada umumnya tertidur pulas. Bahkan pula bagi umat Muslim sendiri, mengabaikan sholat subuhnya. Nah, jika tetap mengerjakan sholat shubuhnya, tak jarang pula tidur lagi, tarik selimut.

Karena itu untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, setelah sholat subuh mulailah beraktivitas. Jika kita seorang pedagang, ya mulai membuka toko atau kiosnya, atau bagi pelajar, mulailah membuka buku, ulangi pelajaran yang sudah didapatkan di kelas. Bagi seorang pelajar di waktu itulah untuk belajar lebih serius, mungkin menghafal, atau mempersipakan diri untuk ujian. Karena otak kita masih segar, maka isilah dengan pelajaran, agar ingat dan mudah memahami  pelajaran.

Kalau kita mau jadi orang yang lebih, tentu kita harus juga berbuat lebih dari orang lain. Jangan sama! Harus melangkah lebih awal, bila perlu berlari mengiringi waktu yang begitu cepat berlalu. Jangan pernah membuang waktu dengan kegiatan yang sia-sia, meski itu hanya sedetik saja. Ini cukup serius kalau hitungan detik, bukan? Tapi memang begitulah seharusnya. Bukankah waktu juga begitu kejam kepada kita?[]

Penulis:  Asmara Dewo

Baca juga: 

Ketukan di Waktu Subuh

Hanya Allah yang Menentukan, Sekalipun Dokter sudah Menyatakan Kematian

Akhir Kehidupan Manusia dan Tiga Amalan yang Tak Ada Putusnya

Silahkan Abaikan Kata Mereka, Sebab Hidup Kita yang Menjalaninya

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas