Candi Plaosan Lor | Foto AIJ

Asmarainjogja.id-Di depan candi kembar itu tumbuh subur tanaman warga. Sawah yang menghijau, tampak buliran padinya mulai menguning.

Cukup luas permadani hijau milik warga sebagai kesibukan setiap harinya menemani candi yang elok dan megah tersebut.

Terpancang pula batang-batang bambu untuk kacang panjang, agar tanaman sayuran itu dapat menjalar tinggi lalu mengintip candi tanda cinta dari wangsa Sanjaya itu.

Demi cinta, apa yang tidak diberikan bagi seorang pujangga cinta? Tentu semua diberikan bukan? Begitu halnya dengan Raja Rakai Pikatan untuk permaisuri tercintanya Pramowardhani. Sebuah candi dibangun sebagai tanda cinta untuk istrinya yang beragama Budha Mahayana. Sedangkan Raja Rakai Pikatan sendiri beragama Hindu Siwa. 

Candi Plaosan LorCandi Plaosan Lor tampak  kemegahannya dari persawahan warga | Foto AIJ

Candi itu bernama Plaosan. Kompleks candi ini dibagi dua, Candi Plaosan Lor (lor dalam bahasa Jawa adalah utara) dan Candi Plaosan Kidul (kidul dalam bahasa Jawa adalah selatan). Nah, kali ini saya bersama baypack biru di punggung menjejaki Candi Plaosan Lor yang menghayutkan saya ke 12 abad silam.

Candi Plaosan yang bercorak Budha dan Hindu tersebut dibangun pada  awal abad ke-9 masehi. Dalam prasasti Cri Kahulunan (842 masehi) tersebut Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan, dengan dukungan suaminya. Menurut Johannes Gijsbertus (Hans) de Casparis seorang filolog dari Belanda bahwa Sri Kahulunan adalah gelar Pramowardhani.

Candi PlaosanBangunan induk candi yang tampak mirip, itu pula disebut candi kembar | foto AIJ

Kompleks Candi Plaosan Lor sangat luas ini memiliki dua candi utama. Pertama di sebelah selatan (kanan) dinamakan candi induk selatan dengan relief yang menggambarkan tokoh-tokoh pria. Sedangkan di sebelah utara (kiri) dinamakan candi induk utara dengan relief yang menggambarkan tokoh-tokoh wanita. Bentuk bangunannya hampir mirip, karena itu pula candi ini disebut-sebut candi kembar.

Ciri khasnya lainnya Candi Plaosan adalah begitu banyaknya stupa yang menghiasi setiap candi utama dan candi perwara (candi yang berurukan lebih kecil). Ada 9 candi perwara bisa dilihat di belakang candi induk yang berjajar rapi dengan cantik. Semulanya ada banyak candi perwara di sini, hanya saja sekarang berbentuk tumpukan bongkahan batu candi. 

Candi plaosan lorBerjajar dengan anggun candi perwara di belakang candi induk | Foto AIJ

Reruntuhan candi di sekitar halaman itu membayangkan pikiran saya, jika semua candi, stupa, arca masih utuh, Candi Plaosan adalah salah satu candi terindah yang dimiliki Indonesia untuk dunia. Walau begitu keadaan candi seperti ini masih memancarkan keelokan bagi siapa saja yang menatapnya.

Di ujung kanan candi ini terdapat pelataran batu setinggi satu meter dengan luas sekitar 100 meter persegi. Di sana terdapat archa-archa budha tanpa kepala. Dari laman Kompas.com yang diposting pada tanggal 11 Maret 2011 dengan judul Kisah Kepala Arca yang Terpenggal, pada berita itu dituliskan memang ada pencurian kepala archa yang dilakukan oleh warga. 

Arca budha tanpa kepala di Candi PlaosanArca budha tanpa kepala di pelataran semen Candi Plaosan | Foto AIJ

Terik matahari semakin menyengat kulit, sebuah pohon beringin yang begitu rindang menjadi payung perjalanan saya menikmati candi Plaosan. Sejenak beristirahat dalam semilirnya angin bersama desiran daun yang menyahdukan telinga. Begitu sejuk duduk di bawah pohon beringin itu, sembari melihat keelokan Candi Plaosan dan berbagai tindak-tanduk pengunjung di sana.

Pengunjung dikenakan tiket sebesar Rp 3.000. Cukup murah, kan? Nah, Candi Plaosan ini berlokasi di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Rute menuju ke Candi Plaosan dari Jalan Yogyakarta-Solo, setelah gapura perbatasan antara Yogyakarta dan Jawa Tengah (depan Candi Prambanan), di lampu merah pertama, beloklah ke kiri (Jalan Manisrenggo). Ikuti terus jalan tersebut sampai jumpa di perempatan, kemudian pilih jalan ke kanan, terus ikuti jalan itu, maka sahabat traveler sampai ke candi kembar tersebut. Jika sulit, monggo ditanya warga setempat![]

Penulis:  Asmara Dewo 

Baca juga:  Keunikan dan Keindahan Candi Sojiwan

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas