Gua Pindul | Foto BSM, asmarainjogja

Asmarainjogja.id – Perbukitan di Gunungkidul menyimpan begitu banyak eksotis alam, tak hanya keindahan semata, namun penuh petualangan yang menantang.

Benar saja mancanegara dari belahan dunia berbondong-bondong bertualang ke Gua Pindul. Dan rasanya, tak lengkap perjalanan seorang petualang jika belum menjejal gua yang paling populer di Yogyakarta ini.

Hari yang cukup cerah, sang surya merangkak naik, langit mulai membiru dengan awan putih yang bergumpal. Likuan tajam menuju perjalanan Gunungkidul, dan jalan beraspal yang baik, para crew Gua Pindul sudah sudah menunggu para pengunjung di tepian jalan. Selang beberapa menit, salah satu di antara mereka menghampiri kami.

“Ke Gua Pindul, Mas?” tanya dia dari atas motor mengiringi kami, Rabu, (28/10/2016).

“Iya, Mas, ke Gua pindul,” jawab saya.

Kami berhenti sejenak, berbicara dengannya yang memakai seragam kaos crew Gua Pindul. Setelah sepakat, kami pun di giring menuju ke Gua Pindul.

“Sekitar 20 km lagi dari sini, Mas,” ujarnya lagi, “tenang, nggak ada tips untuk saya, karena saya sudah dapat dari kantor.”

Baiklah, kami pun mengekori motornya dari belakang. Sekitar 45 menit sampailah kami di bascame Gua Pindul. Sesampai di sana, kami duduk beberapa menit, menunggu para pemandu yang sedang bersiap-siap. Dan salah seorang dari crew Gua Pindul menerangkan kepada kami mengenai wisata yang ada di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta tersebut.

Gua Pindul

Gua Pindul di Gunungkidul | Foto BSM, asmarainjogja

Di Daerah Gua Pindul ini, tak hanya Gua Pindul saja yang bisa dikunjungi, misalnya saja Gua Baru atau Gua Kristal,Gua Gelatik, Gua Sriti. Bahkan juga ada body rafting menelusuri Sungai Oyo. Dan bagi hoby off road, ada pula di sana, dengan biaya sewa jeep dan pemandu dikenakan Rp. 500.000.

Dan kami hanya mengambil tiga wisata saja, yaitu Gua Pindul, Gua Baru atau Gua Kristal, dan Rafting Body, dengan biaya per orangnya Rp. 110.000. Dan bagi teman-teman adventurer yang ke sini bisa ambil satu paket saja, misalnya Gua Pindul, per orangnya hanya Rp. 40.000. Selain itu ada juga jasa fotografer, biaynya Rp. 100.000 per objek wisata. Namun kalau kamera dari kita, hanya menggunakan jasa mereka saja Rp. 50.000.

Setelah semua perlengkapan beres, memakai pelampung, sepatu safety (yang biasa dipakai oleh petani di sawah) dan pemandu sudah siap membawa kami, kami pun dinaikkan mobil pick up. Wisata yang pertama kali kami kunjungi adalah Gua Baru, jaraknya dari bascame tadi sekitar 300 meter.

Gua Baru

Di depan mulut Gua Baru atau Gua Kristal | Foto BSM, asmarainjogja

Di depan mulut gua sebongkah stalagmit dipasang di sana. Apakah ini asli atau bagaimana, saya pun tanyakan pada pemandu. “Ini asli stalagmit, Mas, hanya saja diambil dari dalam gua kemudian disemen di sini.”

Kedalaman Gua Baru ini sekitar 200 meter, dengan stalagmit dan stalagtit yang cukup eskostis. Salah satu keunikan stlagamit helagtit di Gua Baru adalah tembus cahaya transparan. Seperti batu akik yang dijual di luar sana. Teman kami dari Bogor berseru. “Bisa buat batu akik nggak, Mas?”

“Nggak bisa, Pak, hancur batunya kalau dibuat batu akik,” tutur pemandu itu.

Demam batu akik ternyata belum punah seutuhnya.

Stalagtit dari langit-langit gua juga ada yang berbentuk runcing ke bawah, ada yang berwarna cream, dan ada pula yang berwarna kristal dengan kerlap-kerlip terkena cahaya alat penerang kami.

Sebenarnya kedalamannnya jauh seperti yang ditulis di atas tadi, ada jalan vertikal di dalam gua, hanya saja masih dalam tahap penelitian dari Universitas Gajahmada. Jadi saat ini masih belum bisa dibuka untuk umum, namun ke depannya akan dibuka, dan apa saja kiranya di dalam gua itu. Buat penasaran saja!

Stalagtit di Gua baru

Stalagtit di Gua baru | Foto BSM, asmarainjogja

Di dalam gua juga dipasangi alat penerang yang dialiri aliran listrik, jadi tidak begitu gelap kesannya. Ada beberapa titik yang memang cukup terang, selainnya remang-remang. Setelah mengabadikan petualangan ini dengan foto, kami pun melanjutkan ke Gua Pindul.

Dari Gua Baru menuju Gua Pindul kami berjalan kaki, beberap crew sudah ada yang menunggu untuk membagikan kami ban. Nah, ban inilah yang kami bopong sampai ke Gua Pindul. Gua Pindul ini dialiri sungai yang tenang di bawahnya, sebab itulah untuk menelusuri, kami harus menggunakan ban.

Sayangnya bulan ini adalah musim hujan, warna sungai di Gua Pindul tidak hijau seperti di foto-foto yang tersebar di internet. Karena tanah aliran sungai dari tanah liat, saat hujan mengguyur deras, warna air sungai pun menjadi kuning. Tapi petualangan tidak memandang warna air, mau warna kuning, hijau, bahkan pink sekalipun ini adalah tetap sebuah petualanagn yang tak akan terlupakan.

“Mbaknya saja duluan,” pemandu menyuruh Rizka untuk naik ke atas ban.

Gua Pindul

Siap-siap memasuki Gua Pindul di atas ban melawati sungai | Foto BSM, asmarainjogja

Kemudian Pak Yamin, selanjutnya saya, dan teman-teman lain dari Bogor. Satu per satu kami naik di atas ban. Seorang pemandu paling depan menggiring Rizka. Semuanya kami saling bertautan, berpegangan ban teman lainnya, agar tidak terpencar, dan mengikuti arah pemandu.

Perlahan di atas ban kami berjalan mengikuti arah sungai yang menembus Gua Pindul. Gua Pindul terbagi menjadi tiga zona, yaitu zona remang, zona gelap dan zona terang. Pertama kalinya kami dihadapkan dengan zona reman, stalagtit dan stalamit sudah mulai tampak terlihat. Dan berbagai ornamen pada gua mulai disuguhkan kepada kami.

Pada zona remang kami merasakan udara yang begitu sejuk, seperti berada di ruangan ac, cukup dingin. Selain itu terdapat stalagmit yang berbentuk lingga dengan warna cokelat kekuningan yang begitu kokoh. Lingga menurut umat Hindu adalah lambang dari kesuburan, biasanya lingga ini bisa dijumpai di candi-candi yang bercorak Hindu.

“Konon menurut ceritanya, kalau pegang lingga ini, laki-laki akan jadi lebih perkasa dan dipermudah jodohnya,” kata pemandu lagi, “tapi kalau cewek jangan pegang!” serunya sambil tertawa.

Kami berlima tertawa, sedangkan Rizka kikuk dengan obrolan mistis dari sang pemandu. Pada langit-langit gua terdapat makhluk malam alias kelelawar pemakan biji-bijian. Ia menempel pada langit gua yang membuat bercak-bercak hitam langit gua karena kencingnya. Selain kelelawar penghuni makhluk di Gua Pindul ini, juga terdapat bermacam ikan.

“Macam-macam ikan ada di sini, Mas, ikan mujair, ikan gabus juga ada,” terang pemandu kepada kami, “kedalaman sungai ini sampai 5-7 meter.”

Wah, kalau tahu banyak ikannya bisa sambil mancing jua di sini.

Selanjutnya di zona gelap kami juga menemukan pilar yang begitu besar, pilar adalah bertemunya stalagmit dan stalagtit yang membentuk tiang-tiang pada gua. Selain itu terdapat juga stalagtit yang sudah mati.

Stalagtit mati di Gua Pindul

Stalagtit mati di Gua Pindul | Foto BSM, asmarainjogja

Stalagtit yang sudah mati tersebut warnanya kusam, dan tidak mengkilap lagi, dan tentunya tidak akan bisa tumbuh lagi membesar. Bentuknya juga seperti tulang-tulang paha manusia. Sebab matinya stalagtit yang menggantung di atas gua itu karena banjir robs yang melanda gua ini.

Jika di zona remang tadi ada kelelawar pemangsa biji-bijian, namun di zona gelap terdapat kelelawar pemangsa daging. Dan uniknya, kelelawar ini three in one, satu jantan dan dua betina menyatu dalam lubang-lubang pada langit gua. Ternyata kelelewar juga poligami, guys!

Kelelawar di gua pindul

Kelelawar pemakan daging di langi-langit Gua Pindul | Foto BSM, asmarainjogja

Dan sampailah kami di zona terang. Zona terang karena di atas gua terdapat lubang yang cukup besar dengan membawa sinar ke dalam gua. Di sinilah kami berpuas-puas mandi dan melompat dari atas batu di kolam renang gua pindul. Ya, kami pikir inilah kolam renang alam yang keren sekali.

Gua Pindul

Tempat berenangnya di Gua Pindul | Foto BSM, asmarainjogja

Setelah cukup puas mandi di sana, kami pun keluar dari mulut Gua Pindul. Kemudian melanjutkan petualangan berikutnya, dan juga yang terakhir, yaitu body rafting di Sungai Oyo. Menuju ke Sungai Oyo, kami dinaikkan lagi dengan pickup. Jaraknya cukup jauh, berkisar satu km.

Di atas pick up itu kami berseru-seru berbicara tentang Gua Pindul yang baru saja dilewati, dan jalanan yang dilewati cukup menggoncang-goncangkan tubuh kami di belakang pick up. Setelah sampai di pintu sungai, nyali kami pun citu melihat arus sungai yang begitu deras.

“Mas, nggak apa-apa nih kita rafting di sini, arus sungai deras ini,” ucap saya pada pemandu.

“Aman, Mas, nanti ikuti saja pemandunya,” jawabnya.

Seorang pemandu mulai masuk ke dalam sungai, ia menarik ban yang kami pegang.

“Satu-satu, semuanya saling berpegangan,” perintahnya pada kami.

Body rafting di Sungai Oyo

Body rafting di Sungai Oyo | Foto BSM, asmarainjogja

Ban yang kami gunakan sama dengan ban yang dipakai di Gua Pindul tadi. Kalau di Gua Pindul arus sungainya tidak deras, di sinia cukup deras. Nah, tempat duduk yang ada di ban itu dibuat dari tali weebing, yang biasa digunakan untuk refling atau climbing. Dan untuk duduk di atasnya cukup membuat selangkangan panas.

Pemandu sudah mulai berjalan, kami digirinyanya ke arah arus sungai. Dengan wajah pucat kami mengikuti intruksinya, tentu saja ini adalah pengalaman rafting body pertama kalinya bagi saya. Pelan-pelan kami mulai bergerak dibawa arus sungai, oh ternyata di start pertama saja arusnya cukup deras setelah itu arusnya tidak begitu besar.

Dan mulailah keceriaan kembali menggurat di wajah kami, tertawa dan berbagai kekonyolan terekspresi dari kami di aliran sungai oyo yang berwarna kuning itu. Sedangkan jasa fotografer dengan hati-hati membawa kamera DSLR di tangannya, dia tampak begitu tenang dan lihai dibawa arus sembari memotret kami. Dan itu ia lakukan sejak di Gua Pindul tadi.

Terus… terus… kami di atas ban terus melaju dibawa arus sungai yang mulai deras. Pepohonan begitu rindang di tepian sungai, begitu juga rumpun bambu yang subur tampak begitu memonopolo tanaman di tepi Sungai Oyo.

“Pegangan yang kuat, arus di sana deras,” kata pemandu.

Ya, kami siap-siap menghadapi arus sungai yang begitu deras, bongkahan batu yang begitu besar sudah di hadapan kami. Kami berpegangan semakin kuat, kami mulai terpental kesana-sini. Bebatuan yang besar di dinding sungai mementalkan kami lagi dari atas ban, ke tengah lalu ke pinggir lagi, dengan dorongan arus yang semakin deras.

Siap-siap melewati arus Sungai Oyo

Siap-siap melewati arus Sungai Oyo | Foto BSM, asmarainjogja

Adrenalin benar-benar dipicu kali ini, bahkan kaki kami juga sempat mengenai batu-batu di Sungai Oyo. Tapi tidak begitu sakit, hanya terbentur sedikit saja. Arus sungai kembali tenang, kami berseru-seru menceritakan apa saja yang baru dialami. Dan ternyata…. Masih ada arus yang cukup ganas yang harus kami lewati lagi. Tidak jauh berbeda dari sebelumnya, alirannya begitu deras, dan bebatuan tampak bergitu besar menghadang.

Siap-siap! Byurrrrr…. Terombang-ambing kami dibawa arus yang begitu dahsyat. Tangan semakin kuat memegang ban. Jangan sampai terlepas, kalau terlepas sudah pasti kami akan terpencar. Sukurlah kami tetap aman sentosa setelah melewati titik-titik arus yang cukup berbahaya.

Salah satu crew sudah ada yang menunggu, setelah melihat kami, ia melompat menceburkan diri di Sungai Oya. Oh… sebentar lagi sampai. Untuk raftng body ini jarakanya 5 km. Ternyata kalau di sungai itu tidak terasa jaraknya, tiba-tiba saja kami sudah sampai sejauh 5 km. Para pemandu bahu membahu menarik kami ke tepi sungai, dengan susah payah akhirnnya kami terdorong juga ke tepian.

Usai sudah petualangan di Gua Pindul Gunungkidul. Sangat seru untuk diulang kembali! [Asmara Dewo]

Baca juga:  Petualangan Seru dan Mendebarkan di Gua Sikidang Kencono



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas